Resolusi Travelling 2019 : RedDoorz & Ukulele is My Best Mate To Travelling

6 comments


Location:  De Djawatan Banyuwangi, Hutan Fangorn mirip di film The Lord of The Rings 

 Sedari  lima tahun yang lalu, kita sering main bareng. Sejak lima tahun yang lalu, kita sering pergi ke tempat-tempat yang kita inginkan dan rencanakan. Bahkan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan kita menyusun planning iu dengan semangat. Itu merindukan ..

Bahkan empat taun yang lalu juga, kita gemar motoran bareng (read: berboncengan dua-dua) untuk mengunjungi pantai-pantai di Banyuwangi, Jawa Timur. Dari pantai yang belum pernah kita kunjungi hingga pantai yang sebenarnya sudah berkali-kali kita kunjungi. Memang kita tim pantai bukan tim gunung.


Nggak bosen? Gimana ya, sering bertemu bahkan tidak bosan. Kebersamaan dalam persahabat menurutku tidak akan pernah membosankan. Jikapun mulai mencium aroma-aroma kebosanan artinya kamu harus mulai mewarnai persahabatan tersebut dengan melakukan apa yang belum pernah kalian lakukan bersama. 


 Misalnya : pergi ke suatu tempat yang belum pernah kami datangi, melakukan hal-hal baru bersama yang nantinya akan mengajarkan kita arti persahabatan. Kita sering melakukan perjalanan bersama karena satu sama lain sepeti saling ketergantungan. Istilahnya “Nggak ada loe, nggak rame”, ungkapan yang tepat diantara persahabatan kita.

Kita selalu travelling bareng kemanapun kita pergi bahkan hanya sekadar nongkrong di malam minggu. Kita juga sering patungan (iuran) daripada traktiran. Persahabatan yang sederhana namun satu sama lain saling melengkapi. 


 Begitu  juga ketika travelling, saya lebih terbiasa travelling rame-rame dibandingkan bepergian sendiri seperti sebelumnya. Ah, terasa sepi, tidak semangat, kurang asik, ganjil bahkan Kekhawatiran yang selalu menghantui  saat saya travelling seorang diri. Dan seperti ini pernah saya rasakan, tidak enak.

Mungkin ini menjadi alasan, begitu banyak tempat-tempat yang belum saya kunjungi di negeriku Indonesia ini. Saya terlalu cupu soal travelling. Tidak mempunyai wawasan luas untuk menceritakan tempat-tempat yang sudah saya kunjungi dengan alasan begitu tempat yang pernah saya kunjungi. Saya kalah telak soal travelling ..

 Dibalik  itu semua, sampai sekarang saya masih menyelipkan harapan dan keinginan: selain ingin menjelajahi pesona negeriku ini lebih jauh diusia ¼ abad ini, saya ingin merasakan travelling ke luar negeri seperti pengalaman beberapa teman-teman saya. Saya belum pernah ..

Melalui tulisan-tulisan bercerita mereka di blog yang cukup sering saya baca. Keinginan besar yang ingin saya wujudkan di tahun 2019 ini untuk bisa merasakan travelling keluar negeri.

Sayangnya, 1 tahun belakangan menyadarkan saya akan suatu keadaan dimana saya dan teman-teman perjalanan diwaktu lalu sulit untuk dapat menciptakan cerita perjalanan bersama lagi. Sebab waktu yang terbatas dan masing-masing diantara kita memiliki kesibukan yang berbeda.

 Kesibukan  - kesibukan layaknya manusia lain yang sudah menginjak usia 25 tahun dengan segala pertanggungjawaban didalamnnya.

Kuliah, kerja, sibuk menata kehidupan termasuk masalah perjodohan adalah gejolak usia 25 tahun. Semua ini membuat saya semakin psimis untuk melakukan perjalanan bersama (a.k.a rame-rame) dengan formasi yang sama seperti biasanya. Bisa dan mungkin saja sih, tapi entahlah kapan kita bisa travelling bareng bareng lagi ((semoga)) J


Lakukanlah perjalanan hidup kita meski sendiri. Kita tidak perlu berlama-lama menunggu orang datang dan mengajak kita pergi. Kita tidak perlu membuang waktu untuk seseorang yang belum tentu mau kita ajak jalan bersama. Kita bertanggungjawab atas hidup kita sendiri. - Suara Cerita
Meskipun seringkali rindu cerita perjalanan bersama teman-teman, kali ini lebih pada berserah, apa boleh buat.  Kita menentukan arah jalan kehidupan kita masing-masing dalam kesibukannya. Di tahun 2019 ini harus ada perubahan pada diri saya. Saya tidak boleh bergantung kepada orang lain dalam urusan traveling. (Wadidaw, plegmatis banget ya seperti sesi Q&A pemilihan puteri Indonesia whehehe)

 Jika  saya terus menunggu teman travelling, kapan bisa bisa menjelajahi indahnya alam ini? Bahwa, cerita perjalanan tidak harus menunggu orang lain, saya akan memulainya cerita perjalanan mulai dari diri sendiri dan saat ini.

Saya yang sebenarnya tidak pede melakukan perjalan sendiri ini harus mulai belajar membuat cerita perjalanan sendiri disaat saya tidak bisa travelling bersama mereka. Beda dimensi ruang dan waktu maka cerita perjalanan yang didapatkan akan berbeda.


 Begitu  juga dengan siapa-siapa orang yang kita ajak dan kita temui diperjalanan akan memberikan cerita perjalanan yang berbeda. Halo, salam kenal. Jika suatu saat kita bertemu dijalan, jangan sungkan untuk menyapa, mari kita membuat cerita perjalanan J

Ya, 2019 I’m ready to be solo traveller. Ini menjadi salah satu resolusi saya di penghujung tahun 2018. Sembari ternginag-ngiang kata pembakar semangat dari para traveler expert yang sering saya dengar: Indonesia itu Indah, Jangan diam di rumah aja. 

Toh, salah satu hal yang saya khawatirkan ketika solo travelling yaitu tempat bermalam/menginap  terselesaikan dengan hadirnya  RedDoorz . Ya karena saya termasuk dalam golongan traveller yang on budget. Hehe

 Sekarang  sudah tau kan resolusi travelling saya di tahun 2019 ini? Ya, dengan alasan-alasan ditulisan ini, saya ingin menjadi solo traveller ((travell blogger)). Kemudian menceritakan apapun pengalaman/cerita perjalanan yang telah saya dapatkan melalui foto-foto dan tulisan blog. Siap jadi solo traveller? Simak tips berikut juga ya ...

Selengkapnya baca di  8 tips solo traveller pemula

Selanjutnya, teman perjalanan bukanlah menjadi alasan terbesar bagi saya untuk memulai cerita perjalanan. Karena diperjalanan saya pasti menemukan orang-orang baru yang akan mengajarkan saya banyak hal. Finally, RedDoorz & Ukulele is My Best Mate To Travelling ..


1. Berkuda di Bromo
Pesona bromo tiada henti membuat saya jatuh cinta. Saya tidak pernah bosan melihat foto-foto di instagram yang diambil di kawasa bromo atau berlatar belakang gunung bromo. 

 Sejauh  ini melihat pesona bromo dari gambar dan foto-foto yang seliweran di timeline instagram, sedangkan untuk mewujudkannya saya merencanakannya dipertengahan tahun ini untuk travelling ke gunung bromo. Ya, anak pantai juga ngi merasakan menjadi anak gunung sih.


Pun dengan saya, saat ini saya sedang seng-senengnya belajar membuat video cinematik ala-ala traveller seperti diatas. Hal ini membuat saya terasa menggebu-gebu untuk mewujudkan tujuan travelling ke gunung bromo sesegera mungkin, meskipun seorang diri. Kukira spot-spot kere di bromo ini meghipnotisku..

sumber : instagram/haibromo

Ada spot-spot idaman yang ingin saya datangi ketika di Bromo, salah satunya spot untuk menikmati sunrise. Spot ini dapat ditempuh dengan dua alternatif yaitu dengan berjalan kaki atau sewa kuda untuk mencapai puncak bromo.

 Ini  nih sebenarnya yang saya maksud, berkuda dalam artian mengelilingi kawasan bromo dengan menunggangi kuda sewa dan tidak lupa mengabadikan momen ini dalam bentuk foto dan video. 

sumber : instagram/haibromo

Dan foto-foto d atau video berkuda ini bisa saya bagikan untuk teman-teman melalui media sosial. Menambah sangar feed instagram saya sebagai seorang traveller blogger di tahun 2019 ini. Eh, solo travelling dapat banyak foto bisa? Jelas bisa dong. Coba deh baca artikel di website  RedDoorz , disana juga saya bisa menemukan inspirasi travelling.

2. Travelling in Thailand/Vietnam [Soon]
Jika saya harus menunjukan list destinasi travelling yang ingin saya knjungi, maka tidaklah sedikit deretan list yang saya tunjukkan. Saya rasa lebih banyak tempat yang saya kunjungi daripada tempat yang sudah saya kunjungi. Bromo adalah salah satu tujuan utama travelling yang ingin saya wujudkan di pertengahan tahun 2019 ini.

 Lalu  bagaimana dengan travelling keluar negeri? Saya ingin menjelajahi negara-negara di Asia terlebih dahulu daripada negara-negara selain Asia. Negara-negara destinasi tujuan yang mudah dijangkau ataupun cocok untuk taveller pemula seperti saya ini. Dua negara yang ingin saya kunjungi diantaranya thailand dan vietnam. Dua negara ini membat saya menggebu bikin passport loh ... hehe

 Sumber : blog.reddoorz.com/Phi-phi Island

Thailand : Berawal dari kebiasaan saya suka nonton drama atau film yang berbau thailand. Kemudian membawa saya kepo lebih jauh tentang Thailand. Termasuk soal destinasi wisata yang ada di negara Thailand.

 Sejalan  dengan banyaknya cerita atau pengalaman teman-teman blogger yang travelling ke Thailand membuat saya penasaran dan berandai-andai merasakan liburan ke Thailand. Khusunya pantai-patai dan pulau indah yang ada di Thailand.
Phi Phi Island merupakan pulau yang sangat terkenal dengan keindahan pantainya dan menjadi sangat populer setelah digunakan sebagai lokasi syuting film The Beach yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio. Hamparan pasir putih dan jernihnya laut biru menjadikan perpaduan yang sempurna untuk Anda yang ingin menikmati liburan layaknya di hawai.
Lalu Vietnam? Negara yang terletak tidak jauh dari Thailand ini jga membuat saya kepincut. Konon, biaya berlibur/travelling ke vietnam terbilang murah transport dan juga makanan disana. Surga banget kan? Dan setelah saya telusuri wisata Vietnam, vietnam memililiki banyak sekali tempat wisata keren yang “saya banget”. 

 Menurut  saya, saya lebih prefer melakukan traveling ke vietnam daripada singapore, malaysia yang sudah mainstream di kunjungi sebagai tujuan travelling bagi banyak orang Indonesia. Bener-bener vietnam keren banget. Ini nih salah satunya ..

sumber : Instagram/nois7, Ban Gioc, Cao Bang, Vietnam

Sebagai solo traveller yang (baru) debut di tahun 2019 ini, baik traveling di wilayah Indonesia atau luar negeri membuat saya harus banyak belajar & membaca referensi traveling dari para traveller. 

 Membaca  buku-buku traveling, tulisan pengalaman travelling di blog hingga bertanya langsung pada orang-orang tertetu yang memiliki pengalaman traveling khususnya di tempat yang akan saya tuju.

Oh iya, baru saya ketahui jika RedDoorz tidak hanya ada di Indonesia saja tapi juga beberapa negara seperti Singapura, Filipina dan Vietnam. So, penginapan sih aman di kantong selama ada RedDoorz.


 Jadi , apa-apa yang berkaitan dengan travelling baik solo travelling maupun group travelling selayaknya harus saya persiapan saat dengan baik agar dapat mengeksplore destininasi tujuan dengan puas dan maksimal. sehingga dengan itu kemungkinan-kemungkinan apa saja yang sekiranya akan saya alami ketika travelling dapat dihindari.

Rasa penat dengan aktivitas sehari-hari membawa saya travelling sejenak ke kota gandrung, Banyuwangi Jawa Timur. Banyuwangi dengan julukan Paris Van Java ini memiliki banyak destinasi wisata keren yang sudah tidak asing bagi para traveller. Hayo siapa nih yang belum pernah ke Banyuwangi?

Sabtu, 2 Maret 2019 pukul 13.00 WIB kita tiba di penginapan

 Meskipun  hanya liburan 2 hari di akhir pekan, travelling singkat  ke Banyuwangi ini sangat membawa suasana positif bagi saya. Menyegarkan dan menenangkan pikiran.

Kebetulan kali ini saya tidak sendirian karena saya travelling bersama kawan saya sehingga lebih seru ketika bisa mengunjungi beberapa tempat wisata di Banyuwangi hanya dalam waktu 2 hari saja. Emang cukup?




Sebuah kiriman dibagikan oleh agus setiawan (suga) (@sugatangguh) pada

 Tidak  sih. Dua hari tidaklah cukup untuk mengeksplore berbagai spot wisata seru dan kece yang ada di kota Banyuwangi. Kali ini kita mengunjungi 3 tempat, antara lain: Pantai Boom, Pantai Watu Dodol, Pantai Cacalan (foto instagam diatas) dan Air terjun jagir.

Oleh karena itu pertimbangan memilih tujuan wisata yaitu lokasi wisata yang tidak jauh dari penginapan RedDoorz near Stasiun Karang Asem, Banyuwangi. dan juga lokasi wisata yang searah dengan jalur pulang.

Situasi Sekitar RedDoorz Near Karang Asem, Banyuwangi #MadeBySmartphone

 RedDoorz  selalu bisa menjadi andalan karena selain harganya yang sangat terjangkau fasilitas beserta keamanan yang diberikan sejauh ini sangat baik. Mulai dari linen yang bersih, kamar mandi bersih, perlengkapan mandi, televisi, air mineral dan wifi gratis dan ini merupakan 6 guarantee service dari RedDoorz


Nah, buat teman-teman yang ingin berlibur ke kota Banyuwangi. Berikut ini review RedDoorz yang kita pilih sebagai tempat penginapan minggu lalu saat di Banyuwangi. 

Tampak Depan

Samping Kiri Dengan RedDoorz Box

 Receptionist

Ruang tunggu di depan receptionist

1 Kamar RedDoorz dekat receptionist


 3 Kamar RedDoorz di depan receptionist

Tampak kamar RedDoorz dari ruang tunggu


Gazebo yang letaknya center - belakang

Kamar berukuran 4 meter x  3,2 meter

 Kamar mandi ukuran 1,5 meter x 1,5 meter

 Interior kamar mandi 

 Fasilitas Lengkap + Shower air panas/dingin

 Kondisi fasilitas sangat baik

Peletakan pendingin ruangan yang pas & berfungsi dengan baik

Televisi jernis dan stop kontak yang mumpuni


Sebelah Kanan: Tempat parkir dilihat dari kamar sewa RedDoorz no.7


Sebelah Kiri: Deretan kamar RedDoorz dilihat dari kamar sewa RedDoorz no.7

 Jadi , fasilitas yang terbilang lengkap dari RedDoorz near karang Asem Station ini saya dapatkan dengan harga yang sangat murah yaitu Rp.128.000. Tanpa diskon biasanya sewa kamar ini senilai 150 ribu-an. Penasaran dengan kamar yang sudah saya sewa kemarin? Simak video room tour berikut  ..


Jangan lupa teman-teman juga bisa menggunakan kode promo NEW20 untuk mendapatkan diskon 20% untuk transaksi pertama di aplikasi RedDoorz loh. Ini sih murah banget!!! Apalagi jika patungan dua orang, jadi ya cuma 50 ribuan aja. Kaya' aku ...heuheu ..


 Beruntungnya , receptionist sekaligus pengelola RedDoorz Near Karang Asem Station sangat ramah (bapak, ibu dan para pegawainya). Kita (bapak, ibu dan kami) ngobrol banyak hal saat bertemu cek-in maupun check-out.

Lagi-lagi bahasan yang sangat menarik karena kita sharing mengenai penggunaan media digital sebagai sarana komunikasi sekaligus promosi termasuk dalam pengelolaan RedDoorz dimana bapak sebagai pengelola dan saya sebagai pengguna aplikasi RedDoorz yang kali ini mendapat diskon dengan transaksi menggunakan aplikasi.

Tak lupa juga, fasilitas apa-apa yang tertera di aplikasi saya cocokkan dengan kondisi kamar yang sebenarnya (setelah saya tiba dilokasi).  Foto-foto dan informasi yang trtera di aplikasi sama dengan kondisi sebenarnya. Wifi yang kencang, TV yang nggak semutan dan lainnya yang itu tuh, informasi yang tertra di Red Box di halaman RedDoorz.

6 guarantee service RedDoorz

Menurut bapak pengelola (pemilik properti) yang terlihat masih sedikit canggung, ini berbeda dengan tamu pertama (sebelumnya) yang menggunakan situs pihak ketiga ketika booking kamar RedDoorz near Karang Asem Station. Kalau saya transaksi langsung dari aplikasi RedDoorz  dan baya tunai di tempat.

Kerjasama yang terjalin antara pemilik properti dengan RedDoorz yang terbilang masing baru (baru kemarin, jumat) dan keesokan harinya (sabtu) saya singgah di RedDoorz tersebut. Pantas saja RedDoorz di lokasi yang saya ambil ini baru muncul di aplikasi RedDoorz (hari-hari sebelumnya tidak muncul di aplikasi RedDoorz).

 Menurut  bapak pengelola, meski sedikit masing canggung dengan teknologi tapi sedikit demi sedikit akan belajar. Sembari ibu pengelola keluar masuk ruangan dan kemudian menyodorkan saya sebuah formulir untuk saya isi sebelum penyerahan kunci kamar.


"Ya, RedDoorz disini baru buka hari Jum'at kemarin, dan kalo nggak salah mas-nya ini tamu kedua yang menginap disini"-ujar bapak pengelola RedDoorz Near Karang Asem Station saat kami melakukan check-in. 

 Fyi , teman travelling saya ini memberi kabar yang menyedihkan sih hari terakhir kita di Bayuwangi: Dia yang 2 bulan terahir ini selalu siap menemani traveling kemudian harus hijah ke Bali karena urusan pekerjaan. Namanya juga solo traveller, travelling sendiri harus siap dong ... ((iya...iyaa). Yes, next RedDoorz & Ukulele is My Best Mate To Travelling ....

Hari terakhir kita ketrungan (read: main ukulele) bareng

 Semoga  tulisan ini bermanfaat, apalagi buat teman-teman yang ingin travelling ke Banyuwangi dengan menggunakan moda transportasi kereta api. RedDoorz yang sudah saya review ini letaknya dekat dengan stasiun Karang Asem, Banyuwangi loh ..

Waiya, ada advice paling menarik saya temukan di dalam kamar RedDoorz. Melalui tulisan blog ini saya juga mengajak teman-teman (semuanya tanpa terkecuali, tinggal di bumi ini) untuk mendukung campaign #SaveOurEart

Sering lihat advice ini ketika bermalam di Redoorz tuh kaya nempel di kepala gitu ya. Mau buang sampah inget advice ini, mau mandi inget juga, bahkan kalau mau keluarpun selalu inget buat matiin sumber energi, lampu penerangan misalnya. Good job nih, RedDoorz... 




6 comments:

  1. Aaaaaa keren bgt tone warna editingnya wak, bener dugaanku ternyata emg si ukulele yg kau angkat. Mantabbbbb. Ayooo kapan kita kemana? Btw apik kamare yg dstu yah wak

    ReplyDelete
  2. Aku kok ya baca blognya ceria banget ini warna, kebayang ukulele dimainkan hahahaha, asyik ya tempat ini mas

    ReplyDelete
  3. Wah inspirasinya dapat nih artikel. Memang kalau piknik tuh bukan sekadar capek jalan dan buang uang ya. Tapi ada banyak pelajaran sekaligus tempaan untuk menjadikan kita lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih hemat pula.

    ReplyDelete
  4. cadass, saya juga lagi suka ukulele, praktis dan ekonomis :))

    ReplyDelete
  5. Saat dengar kata berkuda di Bromo kpk aku ngenes ya mas wkwkwk 150 rb melayang dari kantongku

    ReplyDelete
  6. Noted, ijin bookmark page ini yak.
    Solo travelling emang bagus untuk melatih diri sendiri dalam segala hal. Belum lagi kalau solo travelling itu lebih banyak keuntungan karena dapat mengelola waktu semau kita berbeda dengan kalau banyakan orang, mesti nurutin beberapa kemauan.

    ReplyDelete

udah masuk sini, jangan lupa tinggalkan komentar ya :)